Selasa, 23 Juli 2013

Hati-hati menjalankan hati, jangan pernah memaksakan langkah hati (bagian 2)

15 Ramadhan 1434 H (23 Juli 2013)

Ass. Wr. Wb.
بسم الله الرحمن الرحيم
Bismillaahir Rahmanir Rahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)

لااله الا الله سبحن العزيز الجبار
Laa ilaaha illallaahu subhaana `aziizil jabbaar (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Maha Suci Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa)

Segala puji dan kemulaiaan hanyalah milikMU ya ALLOH. Sholawat dan salam tercurah bagi Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir jaman.

Setelah sebelumnya penulis mengajak diri sendiri dan pembaca untuk melatih diri mampu hening kemudian diam dalam beberapa detik dalam 1x24 jam, kali ini penulis mengajak anda untuk mengisi diam yang telah anda rasakan.
Mungkin dari sekian banyak pembaca ada yang bertanya, misalnya:
1. "Apa yang bisa dilakukan dalam diam yang hanya 1 detik itu?"
2. "Penulis menganjurkan diam, tapi kenapa setelah diam diminta mengisi diam itu dan melakukan sesuatu? Bukankah ini bertentangan? Kalo begitu tidak diam lagi?
3. "Saya sudah mencoba untuk hening dan diam, tapi saya belum pernah merasakan hening dan diam tersebut, apa yang saya rasakan tidak pernah tercapai seperti yang penulis uraikan?"
4. "Mungkinkah ada hening dan diam selama manusia bernafas (hidup)?"
5. "Tulisan sebelumnya tidak saya mengerti dan tidak bisa saya fahami".
Itulah sekelumit kemungkinan pertanyaan yang ada di benak pembaca dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak sanggup penulis uraiakan satu persatu.

Kembali penulis belum bisa menjawab segudang pertanyaan-pertanyaan itu. Penulis akan mengajak pembaca untuk menyamakan persepsi dulu tentang makna hening dan diam sebelum melangkah lebih lanjut dengan mengisi diam dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Pendekatan yang bisa dilakukan untuk menyamakan persepsi tentang makna hening adalah suatu kondisi dimana telinga dan fikiran tidak terpengaruh secara kejiwaan (emosional) atas segala kehadiran suara dari sekeliling kita. Tidak berarti anda tidak mendengar suara yang ada, anda tetap mendengar semua itu hanya saja anda tidak terpengaruh untuk mendengar suara itu sedikitpun. Hening adalah pra kondisi sebelum anda masuk ke suasana diam.


Diam adalah situasi dimana fikiran dan hati tidak liar menjelajah atas segala keinginan, cita-cita, khayalan, angan-angan, dan mimpi-mimpi. Fikiran dan hati istirahat. Istirahat dari segala bentuk perburuan dan pencapaian. Bukankah anda pernah melihat orang sedang tidur mengigau tentang pekerjaan, istri, anak-anak, pacar, benda yang diinginkannya, sekolahnya, dan segudang aktifitas hidup lainnya. Itulah sedikit gambaran bahwa bisa saja tubuh kita istirahat (sedang tidur) tetapi hati dan fikiran kita masih terus bekerja mengejar cita-cita atau segala obsesi yang ada dalam diri kita. Apakah dari sisi hati dan fikiran orang yang mengigau sedang dalam kondisi diam? Silahkan pembaca menterjemahkan sendiri.

Bukan pula diam seperti orang tidur yang lelap yang tidak mengetahui apapun kejadian di sekitarnya. Diamnya orang tidur mendekati kondisi tidak sadar bahkan hampir sama dengan tidak sadar. Bukan seperti itu kondisi diam yang ingin dicapai. Karena sulit digambarkan dengan kata dan umpama (permisalan) maka sebaiknya pembaca yang budiman mencoba dulu, berusaha mencapai kondisi diam semaksimal mungkin sesuai kadar pengetahuan dan rasa yang dimiliki saat ini. Sedikit demi sedikit dari setiap 1  detik yang dirasakan lambat laun akan meningkat menjadi rasa diam yang sesungguhnya.

Sampai disini diharapkan kita sudah bisa lebih mengerti dan memahami makna hening dan diam.
والحمد لله رب العالمين

Wal hamdu lillaahi rabbil `aalamiin
Dan segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam
Wass. Wr. Wb


Senin, 22 Juli 2013

Hati-hati menjalankan hati, jangan pernah memaksakan langkah hati (bagian 1)

Ass. Wr. Wb

14 Ramadhan 1434 (22 Juli 2013)

Bismillahirahmanirrahiim.
Segala puji dan kemulaiaan hanyalah milikMU ya ALLOH. Sholawat dan salam tercurah bagi Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir jaman.

Dalam postingan kali ini, penulis mengajak diri penulis sendiri dan anda semua yang penulis hormati untuk sejenak rehat dari segala kesibukan dan hiruk pikuk aktifitas yang telah dilakukan hari ini. Sejenak saja. Tidak memerlukan waktu lama untuk rehat, heningkan diri sendiri, untuk sejenak kembali ke dalam kesejatian "manusia" yang dianugerahkan Alloh swt kepada kita. Situasi hening "dalam diri" bisa dikondisikan baik secara internal maupun eksternal. Penulis tidak akan merinci teknis hening ini karena penulis yakin bahwa para pembaca mampu secara teknis melakukan keduanya itu.

Bila kondisi hening sudah hadir dalam diri pembaca, selanjutnya penulis akan mengajak anda "diam" sejenak. Situasi hening adalah pra kondisi untuk mencapai "diam". Biarkan semua kondisi itu tercipta hanya dengan anda me"niat"kan saja. Tidak boleh ada pemaksaan dan upaya berlebihan dalam men"diam"kan diri ini. Perlu diingat bahwa masing-masing orang memiliki kemampuan berbeda dalam mencapai situasi hening dan kemudian diam tersebut. Maka dari itu anda tidak perlu mendeskripsikan lebih lanjut tentang situasi hening dan diam itu dengan akal budi, lebih-lebih dengan akal logika. Jangan. Sekali-kali jangan pernah anda bayangkan bagaimana bentul real dari hening dan diam yang penulis maksud. Karena yang penulis maksud dengan hening dan diam ini ada dalam tatanan rasa bukan logika.

Target awal mencapai situasi hening dalam kesadaran dalam waktu hidup 24 jam sehari yang kita lalui adalah 3 detik dan kemudian diam 1 detik. Saya yakin anda tidak akan keberatan untuk meluangkan waktu 3+1 detik dalam 3600 detik hidup anda dalam sehari karena itu sangat cepat dan mudah.

Untuk apa kita melakukan ini (menciptakan hening dalam diri kemudian diam)???

Jawaban pertanyaan tersebut tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan logika saja, tapi juga harus dijawab dengan hati, dengan rasa. Pernahkan anda merasakan hening? Pernahkah anda merasakan diam? Hening dan diam yang sesungguhnya dalam situasi hening dan diam yang disadari, bukan karena terpaksa atau dipaksa situasi tanpa mengerti mengapa keheningan dan ke"diam"an  ini terjadi pada diri anda? Bila situasi ini yang pernah anda rasakan maka 100% orang dewasa pernah merasakan situasi tersebut. Dan dari angka tersebut sebagian besar tidak tahu jawabannya, jadi anda tidak perlu khawatir karena sebagian besar orang dewasa begitu adanya.

Seandainya anda sudah mampu mencapai situasi itu, sesungguhnya anda tidak perlu meneruskan membaca artikel ini, karena anda sudah menemukan rasa itu dan sekaligus jawaban sudah terbentang luas atas semua pertanyaan tersebut.

Dalam khasanah rasa yang diharapkan adalah kesediaan mencicipi rasa itu. Bila ada pertanyaan sebaiknya tidak menanyakan rasanya tapi prosesnya, bagaimana anda bisa mencapai rasa itu. Karena tentang rasa akan terjawab dengan sendirinya saat anda mencapai situasi tersebut.

Demikian sekelumit dalam episode menjalankan hati. Semoga bermanfaat.

Alhamdulillah.

Wass. wr. wb




Sabtu, 20 Juli 2013

Lima Prinsip 3M tentang HATI (3M = Mengerti, Memahami, dan Melaksanakan Suara Hati)

Ass. Wr. Wb.

12 Ramadhan 1443 (21 Juli 2012)

Sholawat dan Salam tercurah bagi UtusanNya Yang Agung dan Maha Lembut, Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau, para pewaris kenabian, serta umatnya hingga akhir jaman. Amin.

Saya mulai tulisan ini bertepatan dengan bulan yang penuh berkah dan ampunan. Dengan harapan tulisan ini bisa berlanjut dan memberikan manfaat kepada penulis sendiri dan para pembaca semua. Amin.

Ada lima langkah untuk mengerti, memahami, dan mampu melaksanakan suara hati dengan HATI. Walau bukan prinsip mutlak saya beranggapan bahwa ini adalah pokok batang dan akan menimbulkan cabang serta ranting lainnya.

1. ati ati ngelakoni ati (hati-hati menjalankan hati), jangan memaksakan langkah hati;
2. perjalanan hati dan kemauannya, perhatikan kemana hati memandang dan cenderung melangkah;
3. langkah hati menuju jalan sebenarnya, karena setiap HATI itu fitrah selalu mengajak pada yang benar;
4. banyak melihat/ mempelajari perilaku Nabi SAW, bila anda masih was-was dengan suara hati anda;
5. Allohuma Sholi ala syaidina Muhammadin bi'adadi kholqi, perbanyak ingat dan baca sholawat Nabi SAW.

Itulah sekelumit penjelasan dari pokok-pokok yang mesti dimengerti, dipahami, dan dilaksanakan dalam berlatih mendengar dan menuruti suara hati.

Semoga bermanfaat. Amin

Wass. Wr. Wb