Ass. Wr. Wb
14 Ramadhan 1434 (22 Juli 2013)
Bismillahirahmanirrahiim.
Segala puji dan kemulaiaan hanyalah milikMU ya ALLOH. Sholawat dan salam tercurah bagi Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir jaman.
Dalam postingan kali ini, penulis mengajak diri penulis sendiri dan anda semua yang penulis hormati untuk sejenak rehat dari segala kesibukan dan hiruk pikuk aktifitas yang telah dilakukan hari ini. Sejenak saja. Tidak memerlukan waktu lama untuk rehat, heningkan diri sendiri, untuk sejenak kembali ke dalam kesejatian "manusia" yang dianugerahkan Alloh swt kepada kita. Situasi hening "dalam diri" bisa dikondisikan baik secara internal maupun eksternal. Penulis tidak akan merinci teknis hening ini karena penulis yakin bahwa para pembaca mampu secara teknis melakukan keduanya itu.
Bila kondisi hening sudah hadir dalam diri pembaca, selanjutnya penulis akan mengajak anda "diam" sejenak. Situasi hening adalah pra kondisi untuk mencapai "diam". Biarkan semua kondisi itu tercipta hanya dengan anda me"niat"kan saja. Tidak boleh ada pemaksaan dan upaya berlebihan dalam men"diam"kan diri ini. Perlu diingat bahwa masing-masing orang memiliki kemampuan berbeda dalam mencapai situasi hening dan kemudian diam tersebut. Maka dari itu anda tidak perlu mendeskripsikan lebih lanjut tentang situasi hening dan diam itu dengan akal budi, lebih-lebih dengan akal logika. Jangan. Sekali-kali jangan pernah anda bayangkan bagaimana bentul real dari hening dan diam yang penulis maksud. Karena yang penulis maksud dengan hening dan diam ini ada dalam tatanan rasa bukan logika.
Target awal mencapai situasi hening dalam kesadaran dalam waktu hidup 24 jam sehari yang kita lalui adalah 3 detik dan kemudian diam 1 detik. Saya yakin anda tidak akan keberatan untuk meluangkan waktu 3+1 detik dalam 3600 detik hidup anda dalam sehari karena itu sangat cepat dan mudah.
Untuk apa kita melakukan ini (menciptakan hening dalam diri kemudian diam)???
Jawaban pertanyaan tersebut tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan logika saja, tapi juga harus dijawab dengan hati, dengan rasa. Pernahkan anda merasakan hening? Pernahkah anda merasakan diam? Hening dan diam yang sesungguhnya dalam situasi hening dan diam yang disadari, bukan karena terpaksa atau dipaksa situasi tanpa mengerti mengapa keheningan dan ke"diam"an ini terjadi pada diri anda? Bila situasi ini yang pernah anda rasakan maka 100% orang dewasa pernah merasakan situasi tersebut. Dan dari angka tersebut sebagian besar tidak tahu jawabannya, jadi anda tidak perlu khawatir karena sebagian besar orang dewasa begitu adanya.
Seandainya anda sudah mampu mencapai situasi itu, sesungguhnya anda tidak perlu meneruskan membaca artikel ini, karena anda sudah menemukan rasa itu dan sekaligus jawaban sudah terbentang luas atas semua pertanyaan tersebut.
Dalam khasanah rasa yang diharapkan adalah kesediaan mencicipi rasa itu. Bila ada pertanyaan sebaiknya tidak menanyakan rasanya tapi prosesnya, bagaimana anda bisa mencapai rasa itu. Karena tentang rasa akan terjawab dengan sendirinya saat anda mencapai situasi tersebut.
Demikian sekelumit dalam episode menjalankan hati. Semoga bermanfaat.
Alhamdulillah.
Wass. wr. wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar